Native Apps
Aplikasi dengan jenis native dibangun hanya
untuk satu sistem operasi saja, misal untuk sistem operasi Android dan tidak
bisa di-install pada
sistem operasi lain seperti iOS, Symbian dan lain-lain. Jadi, jika ingin bisa
di-install untuk
sistem operasi lain maka kamu perlu membangun aplikasi yang sama lagi untuk
sistem operasi lain. Karena, setiap sistem operasi memiliki bahasa
masing-masing dan berbeda untuk membuat sebuah aplikasi. Dalam kata lain,
setiap membangun aplikasi dengan jenis native maka
kamu harus membuat ulang untuk setiap sistem operasi, namun sekarang sudah
ada tool yang
menangani masalah ini.
Hybrid Apps
Aplikasi dengan jenis hybrid dapat dibangun untuk
beberapa sistem operasi sekaligus, misal ketika kamu membuat sebuah aplikasi
maka kamu bisa mengkompilasinya ke beberapa sistem operasi sekaligus seperti
Android, iOS atau Windows Phone tanpa harus membuat atau mengkode ulang
aplikasi untuk masing-masing sistem operasi. Karena, aplikasi jenis hybrid dibangun
dengan HTML5, CSS dan JavaScript sehingga semua sistem operasi dapat
mengenalinya melalui teknologi webview. Semua file HTML5, CSS dan
JavaScript dikompilasi menjadi 1 file utuh installer sehingga
performa yang dihasilkan baik, bahkan hampir menyerupai native. Dengan kata
lain, aplikasi hybrid adalah
sebuah situs web kecil yang berjalan di browser(webview) yang “tertanam” pada
aplikasi tersebut.
Web Apps
Aplikasi dengan jenis web hampir sama
halnya seperti hybrid, hanya
saja semua file HTML5,
CSS dan JavaScript tidak ikut dikompilasi menjadi 1 file utuh installer. Semua file tersebut harus
diakses secara terpisah bisa jadi online atau offline, karena aplikasi
jenis ini hanya memanfaatkan ke-responsive-an
dari suatau website. Dengan kata lain, aplikasi jenis ini tidak beda seperti
cara kerja shortcut.
Setelah menguraikan
jenis-jenis aplikasi di atas, seharusnya kamu sudah paham yang dimaksud dengan
aplikasi hybrid. Intinya,
dengan aplikasi jenis hybrid kamu
bisa membuat sebuah aplikasi mobile dengan
bahasa sehari-hari web developer yaitu
HTML5, CSS dan JavaScript.
Kembali ke mobile application. Sesuai
judul, yang akan kita pelajari bukan native
apps ataupun web
apps, melainkan pengembangan aplikasi mobile hybrid.
Lalu, apa hubungannya dengan
Ionic Framework? Sebagai seorang kodinger kita
harus berpikir mustanir atau
berpikir mendalam sebelum mengutarakan suatu kesimpulan, maka dari itu kita
perlu membahas tentang Ionic Framework terlebih dahulu sebelum menyimpulkan apa
kaitannya dengan aplikasi mobile
hybrid.
Ionic Framework
Apa itu Ionic Framework?
Ionic Framework adalah sebuah framework atau
kerangka kerja untuk pengembangan aplikasi mobile HTML5 yang ditargetkan untuk
membangun aplikasi mobile
hybrid. Seperti yang kita bahas sebelumnya, aplikasi hybrid merupakan sebuah
situs web kecil yang berjalan di browser(webview) yang
“tertanam” pada aplikasi tersebut. Aplikasi hybrid memiliki banyak manfaat dibanding
dengan aplikasi native khususnya
pada kecepatan pengembangan, mengakses kode pihak ketiga dan lain sebagainya.
Ionic Framework beperan
sebagai penolong kamu agar lebih mudah lagi dalam pengembangan sebuah
aplikasi mobile
hybrid. Karena faktanya Ionic memiliki banyak
sekali komponen-komponen yang siap digunakan untuk mempercepat pengerjaan
pembangunan aplikasi mobile yang
sedang kamu kembangkan. Intinya, dengan Ionic Framework kamu tidak perlu
membangun sebuah aplikasi mobile
benar-benar dari nol, kamu hanya perlu fokus kepada konsep
aplikasi yang ingin kamu buat dan biarkan Ionic yang akan mempermudah pelaksanaan
implementasi konsep aplikasi menjadi aplikasi utuh yang siap digunakan.
Dengan Ionic Framework, kita
dapat mengkompilasi aplikasi yang kita bangun ke beberapa platform sekaligus
pada kode yang sama. Misal, ketika kamu ingin membuat aplikasi untuk Android
dan iOS maka kamu tidak perlu membuatnya dari awal, melainkan hanya perlu
mengkompilasi kode yang sama untuk masing-masing platform.
Ionic Framework bukan
satu-satunya framework yang
dapat mempermudah kamu dalam pengembangan aplikasi mobile hybrid, faktanya
di luar sangat banyak framework selain
Ionic yang memiliki fungsi yang sama dengan Ionic.
Kesimpulannya, Ionic
Framework akan mempermudah kamu dalam pengembangan aplikasi mobile hybrid dengan
menggunakan HTML, CSS dan JavaScript. Dengan seperti itu, Ionic Framework
memiliki hubungan yang erat dengan pengembangan aplikasi mobile hybrid.
Sedikit Lebih Dalam Tentang
Ionic Framework
Sekarang saatnya membahas
lebih dalam mengenai Ionic Framework. Saat ini Ionic Framework sudah mencapai
versi 4 walaupun masih alpha. Namun,
yang sangat direkomendasikan untuk pengembangan saat ini adalah Ionic Framework
versi 3, dengan Ionic versi 3 memiliki fitur-fitur yang lebih dan performa yang
jauh lebih baik.
Perlu diketauhi, Ionic
Framework juga berjalan di atas framework lain
yaitu AngularJS sebagai core-nya.
Untuk melakukan kompilasi menjadi sebuah installer, Ionic menggunakan Cordova.
Agar bisa melakukan pengembangan di-browser, Ionic
menggunakan NodeJS.
Dasarnya, Ionic memiliki
beberapa versi, yaitu:
Ionic Framework versi
1
Ionic Framework versi 1
menggunakan AngularJS 1 yang di mana masih menggunakan HTML, CSS dan
JavaScript.
Ionic Framework versi
2
Ionic Framework versi 2
menggunakan AngularJS 2 yang di mana sudah menggunakan HTML, CSS dan
TypeScript. Memiliki syntax yang
jauh berbeda dengan Ionic versi 1.
Ionic Framework versi
3
Ionic Framework versi 3 sama
seperti Ionic versi 2 hanya saja menggunakan AngularJS 4 dan memiliki syntax yang tidak
jauh berbeda dengan Ionic 2.
Jadi,
mana yang harus saya pelajari?
Melihat berdasarkan
fitur-fitur dan performa, jauh lebih baik Ionic Framework 3. Dan juga mudah
untuk tempat bertanya ketika terjadi kesulitan, mengingat Ionic Framework 3
adalah versi terbaik untuk saat ini.
Sumber : https//kodinger.com
Komentar
Posting Komentar